Konsep Dasar Akuntansi Syariah: Perbedaan dengan Akuntansi Konvensional

Uncategorized

Halo, Sobat Baca Lampung Cerdas! đź‘‹

     Akuntansi merupakan bahasa bisnis yang digunakan untuk mencatat, mengukur, dan melaporkan aktivitas keuangan. Namun, dalam perkembangannya, muncul kebutuhan terhadap sistem pelaporan keuangan yang tidak hanya memenuhi tujuan ekonomi, tetapi juga nilai moral dan spiritual. Hal inilah yang melahirkan akuntansi syariah, sebuah sistem pencatatan keuangan yang berlandaskan prinsip-prinsip Islam. Artikel ini membahas konsep dasar akuntansi syariah serta perbedaannya dengan akuntansi konvensional.
Apa Itu Akuntansi Syariah?
     Akuntansi syariah adalah sistem penyusunan informasi keuangan yang mengacu pada Al-Qur’an, Hadis, Ijma’, Qiyas, serta fatwa ulama modern seperti Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) dan standar akuntansi seperti PSAK Syariah. Tujuan utama akuntansi syariah bukan hanya menilai kinerja finansial, tetapi juga memastikan bahwa seluruh transaksi memenuhi prinsip syariah, di antaranya:

  • Larangan riba (bunga)
  • Larangan gharar (ketidakpastian berlebihan)
  • Larangan maysir (judi)
  • Larangan transaksi barang haram
  • Penerapan prinsip keadilan, transparansi, dan amanah

Dengan demikian, akuntansi syariah menekankan akuntabilitas kepada Allah SWT sekaligus kepada pemangku kepentingan manusia.

Landasan Filosofis Akuntansi Syariah
Akuntansi syariah memiliki dua pilar utama:

  1. Tauhid (Unity of God)
    Segala aktivitas ekonomi dilihat sebagai bagian dari ibadah kepada Allah, sehingga pelaporannya harus jujur dan tidak manipulatif.
  2. Maslahah (Kemanfaatan)
    Informasi akuntansi harus memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya investor atau pemilik modal.

Tujuan Akuntansi Syariah

Tujuan akuntansi syariah meliputi:

  • Menyediakan informasi keuangan untuk keputusan bisnis yang sesuai syariah
  • Menilai kepatuhan transaksi terhadap hukum Islam
  • Mengukur distribusi pendapatan yang adil
  • Menyediakan laporan tanggung jawab sosial seperti:
  • Laporan zakat
  • Qardhul hasan (pinjaman kebajikan)
  • Dana sosial (wakaf, infak, sedekah)

Dengan demikian, akuntansi syariah mencakup dimensi sosial dan spiritual yang lebih luas dibandingkan akuntansi konvensional.

Contoh Penerapan Akuntansi Syariah
Beberapa aplikasi nyata dalam lembaga keuangan syariah:

  1. PSAK 102 – Murabahah: pengakuan laba berdasarkan akad jual beli dengan margin.
  2. PSAK 104 – Istishna: pelaporan transaksi pemesanan barang yang dibuat sesuai permintaan.
  3. PSAK 109 – Zakat, Infak, dan Sedekah: pencatatan dana sosial umat.
  4. PSAK 105 – Mudharabah: pembagian hasil usaha berdasarkan nisbah, bukan bunga.
Baca Juga :  Pentingnya Financial Planning dalam Mengelola Pendapatan dan Pengeluaran

Tantangan Implementasi Akuntansi Syariah
Meskipun berkembang pesat, akuntansi syariah masih menghadapi beberapa tantangan, seperti:

  • Kurangnya pemahaman praktisi dan auditor mengenai PSAK Syariah
  • Harmonisasi standar global dengan standar berbasis syariah
  • Perkembangan fintech dan digital banking yang membutuhkan adaptasi aturan baru

     Akuntansi syariah hadir sebagai alternatif sistem pelaporan keuangan yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga mengedepankan nilai etika, keadilan, dan kepatuhan terhadap hukum Islam. Dibandingkan dengan akuntansi konvensional, akuntansi syariah memiliki ruang lingkup lebih luas karena mempertimbangkan aspek moral, sosial, dan ibadah.
Dengan berkembangnya industri halal dan keuangan syariah global, pemahaman akuntansi syariah semakin relevan untuk mendukung sistem ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan.